Berkunjung ke Desa Wisata Kemiren, Melihat Rumah Adat Osing dan Tari Gandrung Khas Banyuwangi

By Fery Arifian - 4/11/2019


Masih di edisi postingan mengunjungi Banyuwangi beberapa waktu yang lalu, kali ini saya mendapatkan pengalaman yang berbeda saat mengunjungi Banyuwangi. Biasanya saya hanya mengunjungi tempat-tempat wisata, tempat bersejarah, ataupun mengunjungi wisata alam. Nah, yang berbeda kali ini adalah saat saya berkunjung ke salah satu Desa Wisata yang ada di Banyuwangi. Namanya Desa Adat Osing Kemiren.

Mengunjungi destinasi wisata budaya sebenarnya terbilang hal baru bagi saya, karena saya jarang banget berkunjung ke desa wisata. Padahal di kota kelahiran saya sendiri juga banyak desa wisata yang menawarkan destinasi wisata budaya. Tapi karena saya belum ada kesempatan buat berkunjung ke situ, ini jadi pengalaman pertama saya hehe.
Suasana asri khas pedesaan
Jika mendengar kata Banyuwangi pasti nggak bakalan jauh-jauh dari pantai dan keindahan alamnya. Tapi sejak saya sering melihat iklan wisata Banyuwangi, saya sangat tertarik dan penasaran dengan satu hal, that's Suku Osing. Sebenarnya saya sendiri sudah cukup lama mendengar dan membaca artikel tentang Suku Osing yang didapuk sebagai Suku asli Banyuwangi. Bahkan salah satu teman kuliah saya juga pernah menceritakan hal ini di depan kelas saat mata kuliah Antropologi dulu.


Tapi belum puas rasanya kalau saya tidak melihat dan berinteraksi langsung dengan Suku Osing asli Banyuwangi ini. Nah, kebetulan saat saya berkunjung ke Banyuwangi, saya dan beberapa orang kawan Blogger diajak ke Desa Adat Osing Kemiren. Letaknya ada di daerah Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Lokasinya tak jauh dari pusat Kota Banyuwangi, menuju ke lokasi pun hanya butuh waktu sekitar 15 - 20 menit saja naik mobil.
Balai Desa Kemiren
Saat sampai di Desa Wisata Kemiren, saya dan rombongan sudah disambut salah satu Koordinator Pokdarwis di sini. Bayangan saya pertama kali, pasti saat datang ke sini pengunjung bakal dilepas bebas begitu saja. Ternyata tidak. Saya dan rombongan disabut dan benar-benar diarahkan menyusuri beberapa sudut Desa.
Pokdarwis sedang menjelaskan tentang Rumah Adat Osing
Awal kedatangan kami, Pokdarwis mengajak saya dan rombongan untuk melihat Rumah Adat Osing yang masih asli. Arsitekturnya tidak jauh berbeda dengan rumah adat khas Jawa. Tapi yang membedakan adalah adanya tiang kayu berbentuk segi empat yang selalu ada di Rumah Adat Osing ini. Tiang segi empat ini menjadi ciri khas rumah adat osing dan tidak menggunakan paku sama sekali. Gokil. Jadi tiangnya cuman dipasang sedemikian rupa, tapi bener-bener kokoh.
Rumah Adat Osing
Dapur Tradisional Rumah Adat Osing Kemiren

Setelah penjelasan panjang lebar, saya dan rombongan diajak untuk berjalan keliling desa. Di tengah-tengah jalan saya sempat ngobrol dan bercengkrama dengan beberapa warga Desa Kemiren. Salah satu yang ajak ngobrol adalah seorang nenek yang saya lupa namanya siapa karena komunikasi kami sedikit terkendala bahasa. Tak jarang bahkan saya keceplosan ngomong dengan Bahasa Jawa halus, tapi si nenek mengerti apa yang saja bicarakan. Justru saya yang gagal paham karena dijawab dengan bahasa Osing hehe. Tapi si nenek sedikit banyak mengajari saya beberapa bahasa Osing.
Warga Osing Banyuwangi
Setelah melihat Rumah Adat Osing, saya diajak untuk melihat kesenian dan suasana Desa Kemiren ini. Beberapa menit berjalan menyusuri perkampungan, saya mendengar sebuah alunan musik yang begitu berirama. Dan ternyata alunan musik itu berasal dari sekumpulan ibu-ibu yang bermain musik dengan tumbukan padi atau di sini menyebutnya dengan Tutuk Alu.
Tutuk Alu
Dahulu, sebelum mesin pemotong padi ditemukan, masyarakat pedesaan selalu menggunakan Lesung dan Alu untuk memisahkan padi dari batangnya. Dan ternyata kegiatan ini tidak hanya sebatas itu saja, tapi masyarakat Osing menggunakannya sebagai media seni musik yang ternyata iramanya begitu harmonis dan butuh koordinasi satu sama lain sehingga menciptakan alunan musik yang harmonis.
Barong khas Banyuwangi
Kemudian, Pokdarwis Desa juga menjelaskan salah satu kostum tari khas Osing yaitu Barong Banyuwangi. Nah, Barong ini hampir mirip dengan Barong yang ada di Bali. Yang membedakan adalah sayap yang dimiliki Barong Banyuwangi, sedangkan di Bali tanpa mengunakan sayap. Kesenian Barong Banyuwangi ini dianggap sakral dan harus ada upacara khusus, dan sayangnya saat saya ke sini tidak melihat langsung pertunjukannya.

Menjelang siang hari, saya dan rombongan menuju ke Balai Desa untuk beristirahat dan menikmati kesenian khas Banyuwangi yang paling saya tunggu-tunggu. Yaitu Tari Gandrung. Dipimpin oleh alunan musik tradisional dan tembang atau lagu berbahasa Osing, kemudian para penari Gandrung dipanggil dan menunjukkan performance-nya.
Akhirnya saya bisa melihat Tari Gandrung Banyuwangi secara langsung
Lengkap dengan iringan musik tradisional Banyuwangi
FYI, entah kenapa para penari Gandrung ini selalu cantik-cantik. Dari apa yang pernah saya lihat di iklan-iklan wisata dan dari pengalaman melihat langsung, ekspetasi saya tentang penari Gandrung tidak berubah hehe. Cantik dan anggun. Setelah agak lama, kedua penari Gandrung di depan mengajak saya dan rombongan untuk menari bersama dengan mengalungkan sampur atau selendang berwarna kuning. Yang artinya saat selendang kuning itu terkalungkan ke leher pengunjung, mau tidak mau pengunjung harus menari bersama penari Gandrung.

Entah kebetulan atau gimana, saya terpilih untuk menari bersama para penari Gandrung ini. Entah grogi atau gimana, saya malah ngajak ngobrol penari Gandrung haha. Saya nggak biasa nari di depan banyak orang soalnya, apalagi tar tradisional seperti ini. Tapi menurut saya ini jadi pengalaman yang berharga buat saya.
Menari bersama para penari Gandrung
Setelah puas menari dan menertawakan teman-teman lain yang jadi 'korban' pertunjukkan menari bersama penari Gandrung, saya sempat mencicipi Kopi Jaran Goyang khas Banyuwangi. Aroma dan rasanya berbeda dari kopi-kopi yang pernah saya minum. Tidak terlalu asam dan ringan. Berbeda dari tipikal kopi-kopi di wilayah Malang yang cenderung asam. Nggak ketinggalan saya juga mencicipi kue Kucur dan Apem Contong. Rasanya manis karena dibuat dari bahan yang didominasi Gula Aren atau gula merah.
Kue Kucur dan Apem Contong
Kunjungan saya ke Desa Adat Osing Kemiren ini benar-benar jadi kunjungan wisata budaya yang mengesankan sekali. Karena akhirnya keinginan saya untuk melihat dan berinteraksi langsung dengan Suku Osing akhirnya terwujud. Next time, kalau ada kesempatan buat berkunjung ke Desa Adat semacam ini, saya bakal menuliskan lagi di blog ini.

Nah, kira-kira kamu tertarik nggak buat mengunjungi Desa Adat Osing Kemiren ini? Share di kolom komentar ya! 

Desa Wisata Kemiren
Dusun Krajan, Kemiren, Glagah, Banyuwangi Regency, East Java 68432

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. Sebenarnya dari dulu kepikiran pengen main ke Banyuwangi, pengen kembali menjelajah beberapa sudut yang menarik untuk diceritakan. Seperti tempat ini

    BalasHapus

Comments