Keindahan Air Terjun Kapas Biru Lumajang yang Wajib Untuk Dikunjungi

By Fery Arifian - 1/03/2020


Mengakhiri minggu-minggu terakhir di tahun 2019 kemarin, saya sengaja menyempatkan diri untuk mengeksplor beberapa objek wisata alam yang ada di Malang dan sekitarnya. Tepatnya pada minggu ketiga bulan Desember 2019, saya bersama seorang teman memang telah merencanakan destinasi mana yang akan kami tuju waktu itu. 

Awalnya kami berencana untuk menuju Candi Jawar Ombo yang letaknya ada di kaki gunung Semeru, lokasi persisnya berada di Desa Argoyuwono, Kec. Ampelgading, Kab. Malang. Namun sayang, kami malah nyasar ke situs purbakala yang juga didapuk bernama Candi Jawar. Sempat kebingungan dan hampir menyerah karena kami menemui medan yang sangat terjal, dan ketidak tahuan akan lokasi. Hanya berbekal Google Maps, dan ternyata Candi Jawar yang kami tuju bukanlah Candi Jawar yang kami maksud.

Lokasi situs purbakala dan Candi Jawar yang kami maksud memang punya kesamaan latar belakang. Alhasil, akhirnya kami menyerah dan kemudian memutuskan untuk turun menuju ke perbatasan Malang - Lumajang. Tepatnya di Kec. Pronojiwo, Kab. Lumajang, dan akhrinya memutuskan untuk menuju ke Air Terjun Kapas Biru.
Masih hanya dengan berbekal arahan dari Google Maps. Namun, kali ini saya tidak ingin sembrono dan asal mengikuti arahan Google Maps saja. Pada akhirnya saya bertanya ke beberapa orang warga yang ada di pinggir jalan. Dan ternyata lokasi pintu masuknya memang susah ditemukan, karena harus masuk ke sebuah gang perkampungan warga.

Setelah menemukan lokasinya, kami kemudian memarkirkan motor dan membayar tiket masuk. Satu orang dikenakan tarif sekitar Rp. 10.000, dan tarif parkir motor sebesar Rp. 5.000. Entah tarif pastinya berapa, yang jelas ingatan saya memperkirakan ada di kisaran tersebut. #CMIIW

Setelah tenaga saya sempat terkuras melewati rintangan terjal yang berujung gagal menemukan Candi Jawar Ombo tadi, ternyata perjalanan menuju lokasi Air Terjun Kapas Biru juga sedikit banyak menguras tenaga. Beruntung saya membawa perbekalan berupa beberapa botol air mineral dan snack sebagai asupan energi untuk menuju ke lokasi Air Terjun.
Anak tangga menuju ke lokasi air terjun
Jalanan yang kami lalui untuk menuju ke Air Terjun Kapas Biru berjarak sekitar 3 km dari tempat parkir. Melewati perkebunan salak, puluhan anak tangga, tebing, tangga, dan beberapa sumber mata air. Pemandangan alam selama perjalanan menuju ke lokasi benar-benar menakjubkan dan masih alami. Kebetulan siang itu cuaca cukup terik, sehingga keringat bercucuran membasahi kaos yang saya kenakan.
Area persawahan, tanda lokasi air terjun sudah semakin dekat
Sampai di area persawahan, kemudian saya bisa mendengar suara air terjun yang semakin dekat. Hanya beberapa puluh meter dari area persawahan, dan Air Terjun Kapas Biru akhirnya terlihat di depan mata.
Akhirnya sampai juga!
Sembari mengistirahatkan badan di sebuah gubuk yang berada di dekat air terjun, saya kembali mengisi energi dengan meneguk air mineral dan menghabiskan beberapa snack yang saya bawa. Ternyata membantu sekali memulihkan tenaga setelah medan yang cukup terjal tadi.

Hari itu, angin bertiup sedikit kencang sehingga bulir-bulir air terbawa oleh angin hingga sampai ke gubuk yang jadi tempat peristirahatan saya. Beruntung hari itu tidak hujan, jika hujan akan sangat bahaya berada di sekitar air terjun karena risiko banjir bandang dari atas.






Setelah puas menikmati lukisan alam ciptaan Tuhan, mengabadikan beberapa momen, dan menyegarkan diri dengan membasuh sebagian anggota badan. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang dan kembali ke pintu masuk. Bisa dibilang perjalanan pulang ini jadi PR yang lumayan berat, mengingat medan yang harus kami lalui didominasi oleh tanjakan dan anak tangga yang curam.




Lelah dan kehabisan energi menurut saya sangat sepadan dengan keindahan Air Terjun Kapas Biru yang saya dapatkan hari itu. Tips bagi pengunjung yang ingin menuju ke sini:
  1. Perhatikan cuaca (disarankan untuk tidak menuju ke air terjun saat mendung atau hujan)
  2. Mengenakan baju dan pakaian yang nyaman, khususnya menggunakan sepatu treking atau sandal gunung karena medan sangat terjal.
  3. Perhatikan waktu, karena semakin sore keadaan akan semakin gelap jadi saya sarankan untuk datang saat pagi atau siang hari.
  4. Bawa perbekalan yang cukup seperti air mineral dan makanan.
  5. Bawa kembali sampahmu dan jangan buang sampah sembarangan.
Air Terjun Kapas Biru
Pronojiwo, Mulyoarjo, Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur 67374

  • Share:

You Might Also Like

27 komentar

  1. Huft aku terakhir kali ke wisata ini jalannya masih ekstrem banget, haha. Belum sempet Dateng lagi padahal pengen aslinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. tahun berapa tuh Bim? dulu pas masih awal-awal buka katanya masih gratis lho masuknya.

      Hapus
  2. Baru tau kalau di Lumajang ada air terjun se keren itu.

    BalasHapus
  3. Pas lihat air terjunnya, langsung bilang wooowww. Tapi pas baca medan terjalnya... wuiii, worth it la yaaa.

    BalasHapus
  4. Cakep banget air terjunnya, dan jalur trekking menuju ke sana sepertinya cukup menantang, jadi penasaran pengen ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saran saya kalau ingin berkunjung ke sini harus siap-siap fisik yang prima kak, karena medannya emang bukan main-main. berasa manjat terbing beneran hehe.

      Hapus
  5. wahhh Kapas Biru emang debest mas. Tempatnya sejuk dan kalau buat spot foto, bakalan kece banget.


    Salam kenal dari kami Travel Blogger Ibadah Mimpi

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada yang lebih bagus lagi sebenarnya, namanya Air Terjun Tumpak Sewu, berada di bawah aliran sungai dari Kapas Biru ini. mengingat lokasinya juga berdekatan.

      Hapus
  6. Air terjun ini salah safh yang terbaik sih menurutku. Ambiencenya beda banget

    Aku ke sini waktu itu jam 7 pagi, bahkan petugas loketnya belum buka. Benar yang kamu bilang, kalau kesini pas hujan pasti repot banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. beberapa air terjun di daerah perbatasan Lumajang dan Malang ini emang punya karakteristik dengan ketinggian yang relatif sama, jadi ambience-nya jelas bakal bikin takjub banget. kalau pas hujan biasanya pengunjung tidak disarankan untuk turun sih denger-denger.

      Hapus
  7. Fery, cukup jauh ya air terjun ini. Mana lokasinya ternyata di Lumajang, pula. Apakah Fery dan temannya langsung kembali ke Malang sepulang dari sini, atau menginap di Lumajang dulu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau dari Kota Malang emang jauh mbak, kebetulan karena rumahku di daerah Malang selatan jadi bisa lebih menghemat waktu buat ke sini. Nggak perlu nginep di Lumajang dan bisa langsung pulang hehe.

      Hapus
  8. Hati-hati menyebarkan informasi ini. Nanti banyak anak alay buang sampah sembarangan di sekitar air terjun yang masih alami ini. Asli keren. Mana masih sepi lagi pengunjungnya. Ini yang paling sulit dicari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya sudah disediakan tong sampah dan larangan untuk membuang sampah sembarangan, tapi pengalaman saat saya ke sini beberapa pengunjung masih kurang sadar dengan sampah yang mereka bawa. bahkan pas perjalanan pulang saya sempat memungut beberapa bungkus plastik makanan yang dibuang sembarangan. That's why saya selalu mengingatkan di setiap postingan blog saya untuk membawa kembali sampah yang dibawa kak.

      Hapus
  9. aku tertarik ketempat yang nyasar itu situs purbakala. Air terjunya indah terlihat alami dengan ketinggian yang lumayan, menakjubkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mending jangan deh kak, nyasar di situs purbakalanya bikin hampir putus asa waktu itu. dan medannya juga nggak waras. mending kalau mau wisata ke tempat yang emang udah pasti-lasti aja biat nggak nyasar kayak saya hehe.

      Hapus
  10. Asik nyurug euy si abang hehe.
    Ternyata di Lumajang ada curug yang kece yaa bang, airnya deras pas musim hujan gini yaah. Setuju nih, bawa kembali apapun yang sudah kita bawa jangan mengotori alam yaah bang hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau di darah Jatim kita nyebutnya Coban lho, Curug buat penyebutan di daerah Jabar dan sekitarnya kan ya? hehe. sayangnya masih ada beberapa pengunjung yang kurang sadar sama sampah yang mereka bawa. sedih.

      Hapus
  11. Obyek wisata keren tuh justru kalo masih sepi yah. Hehe...
    Tapi aku engga sanggup naik tangga, kayak tangga ke loteng rumah itu. Turunnya juga sama ya?
    Makasih ya infonya. Fotonya keren...

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena memang lokasinya harus naik turun tebing jadi sudah dibuatkan akses anak tangga gitu mbak, memang bakal susah, menantang, dan bikin capek. tapi sepadan kok sama pemandangan yang didapatkan hehe.

      Hapus
  12. Kalo mau ngebolang ke pelosok memang harus sinergikan Google Maps sama warga lokal, mas. Google suka ngehek. Tapi aku malah suka naik tangga gitu daripada tanah curam yang licin :D

    Suka sama tone fotomu, warm..

    BalasHapus
  13. Itu dibuat anak tangga yang tegak lurus itu memang sengaja untuk motong jalan atau memang hanya itu satu-satunya akses? Bagus air terjunnya karena kawasannya juga masih sepi.

    BalasHapus
  14. Suka banget ke air terjun gini, tapi kalau ingat rute perjalanannya yang pastinya naik turun kadang aku lesu haha dasar pejalan santai yaa...air terjunnya cantik...

    BalasHapus
  15. Wah tangganya curam juga ya buat naik, agak licin kalau hujan begini, tapi memang betul kalau musim hujan mending hindari air terjun dan sungai takut mendadak banjir ya

    BalasHapus
  16. Wow air terjunnya tinggi sekali. Kebayang deh kalau nyoba main air dibawahnya. Sakiiiit
    Btw itu tangga curam banget, maju mundur cantik kayaknya aku kalau ke sana hahaha

    BalasHapus

Comments